Sidoarjo | AbangPutih.com – Program Satu Desa Satu TPS merupakan program intensif perihal kebersihan dan kesehatan lingkungan. Program Satu Desa Satu TPS, yang secara intensif terhadap pengelolaan sampah pada setiap desa atau kelurahan yang ada di Sidoarjo.
Program sampah agar dikelola dengan serius biasanya dengan cara pilih, pilah, dan bakar residunya. Pengelolaan sampah biasanya disebut sistem 3 R. Pada dasarnya setiap desa selalu mendukung program Satu Desa Satu TPS.
Namun sangat disayangkan ada seorang pejabat publik setingkat Kepala Desa yang pesimis terhadap program tersebut. Kades Wonoayu kecamatan Wonoayu, Supriyadi saat di pendopo desa dikonfirmasi mengaku sudah 3 periode menjabat Kades, tapi dengan pesimis menyampaikan, “Tidak ada lahan untuk TPS,” ucapnya.
Ditanya perihal pengelolaan sampah di teritorial pemerintahannya, dengan enteng mengatakan, “Sampah dibakar setiap warga,” katanya.
Melihat kondisi tersebut bisa dikatakan perihal sampah diabaikan dan bukan hal serius di matanya. Padahal program Satu Desa Satu TPS sudah ada contoh yang baik, yaitu TPS desa Ketajen Gedangan. TPS desa Ketajen sudah dengan sistem 3 R, bahkan sudah dengan counveyer.
Menurut salah satu tokoh masyarakat setempat mengatakan, bila ada pejabat publik pesimis terhadap program tersebut apa mau dikata.
“Sebagai pejabat publik selayaknya solutif secara fundamental bukan terkesan ‘cemen’,” kata salah satu tokoh masyarakat setempat yang memberikan tanggapan dan enggan menyebutkan namanya, Rabu (20/08/2025).
Menurutnya, kesulitan itu sebuah tantangan bukan hambatan yang secara signifikan dan harus ditemukan solusi, bukan hanya ‘mewek’.
“Pejabat publik adalah harapan masyarakat agar terlayani secara maksimal dan setidaknya bisa diharapkan,” ujarnya.
Tokoh masyarakat ini mengatakan, jika sudah tak mampu sebagai pejabat publik, alangkah baiknya ‘munduro cak’.
“Karena saat ini masih banyak SDM yang berkesanggupan menggantikannya,” jelasnya.
Masyarakat pun menyadari, mengelola pemerintahan memang tidaklah mudah, namun bukan berarti harus ‘mewek’.
“Sebagai pejabat publik sepatutnya yakin setidaknya memberikan sebuah harapan. Semangat sudah semestinya untuk sebuah pengharapan publik. Ojok mewekan Cak! Opo nek peno mewek masalah rampung?!,” terangnya.
Mendengar Kades Wonoayu yang telah menjabat selama 3 periode di Kecamatan Wonoayu membuat masyarakat setempat kecewa perihal statementnya terkait pengelolaan sampah yang terkesan datar dan tidak solutif.
Padahal masyarakat juga butuh solusi agar pengelolaan sampah bisa terealisasi program Satu Desa Satu TPS dengan baik, seperti halnya TPS desa lain yang sudah menerapkan sistem 3 R secara modern.
“Semoga pak Kades mendapatkan bimtek terkait pengelolaan sampah dengan baik dan mendapatkan pencerahan dari pak Camat dan pak Bupati, serta dari Ketua DPRD Sidoarjo, itu saja harapan kami selaku masyarakat,” tandasnya.
[TPS 3R Pelangi Desa Ketajen] 