[Mas Rizki, pemerhati sosial sekaligus founder Areknom Suroboyo]

Surabaya | AbangPutih.com – Polemik parkir gratis toko modern di Kota Surabaya pada beberapa hari terakhir ini cukup menjadi perhatian besar bagi banyak pihak.

Hal itu diketahui, polemik ini bermula dari sidak yang dilakukan oleh walikota Surabaya terhadap beberapa toko modern.

Sehingga dari sidak tersebut, walikota menemukan adanya jukir liar yang melakukan tarikan parkir di toko modern yang disana jelas-jelas terdapat tulisan “Parkir Gratis” bagi para konsumen toko modern.

Kemudian walikota melakukan penyegelan terhadap toko modern dan meminta toko modern untuk menyediakan tenaga jukir resmi dan tidak menarik biaya parkir bagi konsumen. Namun bagi yang belum menyediakan jukir resmi, maka tokonya tetap disegel.

Menurut Mas Rizki, selaku founding Areknom Suroboyo dan pemerhati sosial mengatakan, bahwa hal ini dirasa cukup memberatkan bagi pengusaha toko modern, dikarenakan harus menambah beban operasional karena harus menambah pegawai untuk jukir resmi.

Dari munculnya polemik itu, kemudian dilakukanlah pertemuan antara walikota dengan para pengusaha toko modern di Balai Kota Surabaya. Dan seperti yang sudah diduga, hasil pertemuan yaitu mengratiskan biaya parkir meskipun tanpa ada jukir resmi.

Menanggapi hal ini, Mas Rizki pun menyampaikan keheranannya karena seperti yang sudah diduga, hasil pertemuan yaitu mengratiskan biaya parkir meskipun tanpa ada jukir resmi.

“Masalah parkir gratis saja harus dibuat ngalor-ngidul, toh endingnya sudah bisa diperkirakan, ” ujar Mas Rizki, Kamis (19/06/2025).

“Kalau ujung-ujung nya tetep parkir gratis meskipun tanpa harus menyediakan jukir resmi, kan ini buang-buang energi dan tidak efisiensi,” imbuh Mas Rizki.

Mas Rizki mengatakan, pada sejak awal sudah dengan jelas diinfokan oleh toko modern untuk konsumen parkirnya gratis.

“Hanya saja kemudian ada beberapa oknum masyarakat yang secara sepihak jadi jukir (juru parkir, red), ini kan jatuhnya ilegal,” jelas Mas Rizki.

“Sehingga hal ini menjadi polemik, kan ya eman. Sementara banyak hal yang bisa dilakukan oleh walikota untuk membangun dan menata Kota Surabaya,” tambah Mas Rizki.

Mas Rizki menambahkan, seharusnya pemerintah kota memikirkan bagaimana bisa menarik pajak daerah dari apartemen, hotel ataupun tempat hiburan yang ada di Surabaya.

“Jangan sampai ada yang menunggak dan dilakukan pembiaran, apalagi nilainya sampai milyaran rupiah,” tegas Mas Rizki.

“Termasuk terkait masalah sengketa, misal di wiyung ada sengketa antara perusahaan air minum isi ulang dengan warga sekitar, dan di daerah lain juga di Sawahan ada polemik antara warga dengan PT KAI. Seharusnya ini yang menjadi perhatian serius cak walikota,” pungkasnya.

error: Content is protected !!